KITABMAOP

Untuk Mengingat Dan Melawan Kesepian

Post Top Ad

#hastek

ESSAI (68) CATATAN HARIAN (47) BERITA MEDIA (45) PUISI (11) GoBlog (9) CERPEN (8)

07 July 2017

7/07/2017 01:28:00 AM

Idrus Bin Harun, Perupa Aceh Lolos Seleksi Pameran Seni Rupa Kemendikbud

Idrus Bin Harun dengan latar lukisannya saat mengikuti Jakarta Beinnale 2015 di Jakarta | koleksi foto Idrus Bin Harun



BANDA ACEH - Idrus Bin Harun, Perupa Aceh lolos  seleksi Pameran Besar Seni Rupa ke 5 Tahun 2017 yang akan dilaksanakan pada September nanti di Taman Budaya Provinsi Maluku, Ambon. Informasi itu disampaikan melalui laman kebudayaan.kemdikbud.go.id pada 5 Juli 2017.

Idrus Bin Harun saat ini  merupakan satu-satunya Seniman Rupa Aceh yang lolos seleksi ajang pameran tahunan tersebut. Provinsi Aceh masih kekurangan satu orang Perupa lagi, sebab menurut panitia, setiap provinsi akan diwakili oleh dua orang Perupa.

Kegiatan pameran tersebut diikuti oleh berbagai perupa tanah air sejak dibuka pendaftaran karya April hingga Juni 2017. Calon peserta pameran mengirimkan karyanya beserta portofolionya dari seluruh Indonesia.

Idrus Bin Harun, saat dijumpai di Ruang Studi Jamaah (RSJ) markas Komunitas Kanot Bu menyebutkan, karyanya yang berjudul Bunga Tidur itu dikirim jelang hari penutupan pendaftaran.

Lukisan Bunga Tidur itu dilukis di atas kanvas  berukuran 80cm x 120 cm yang menarasikan tentang panjangnya angan-angan seorang pemalas. Ia menyelesaikan karyanya disela-sela kesibukannya di bulan puasa ramadan 1438 H.

"Dalam lukisan itu, saya menghadirkan multiobjek dari kenderaan lapis baja sampai pesawat terbang. Fokus dari lukisan itu adalah orang tidur. Saya pikir, semua kita punya angan-angan, tapi bek cet langet,” sebut Perupa Aceh ini yang pernah memamerkan karyanya di Jakarta Bainnalle 2015.

Idrus kini sedang menunggu dihubungi oleh pihak kementerian untuk proses administrasi keberangkatan ke Ambon. Panitia Pameran Besar Seni Rupa 2017 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud masih menunggu  pengusulan karya dari seniman rupa  untuk beberapa provinsi yang pesertanya masih kurang,  akan diberikan waktu sampai tanggal 12 Juli 2017, Aceh termasuk salah satu diantaranya [acehnews.co]

27 May 2017

5/27/2017 04:18:00 AM

Belasan Seniman Rupa Banda Aceh Lakukan Street Art Tembok

 Akar Imaji dan Kawan-Kawannya di Lampineung, 25 Mei 2-17


BANDA ACEH - Belasan seniman rupa yang bergabung dalam 3 komunitas melakukan street art mural grafiti dan jamming di tembok dinding dekat stadion H. Dimurtala, Banda Aceh selama dua hari, 24-25 Mei 2017. Tiga komunitas seniman rupa itu adalah Akar Imaji, Apotek Wareuna, dan Skateboard Banda.

Mural dinding sepanjang 40 meter dengan tinggi 2 meter mereka lukis secara bersama-sama untuk memperindah pemandangan lalulintas di kawasan tersebut.

Arnis Muhammad, seniman muda dari Akar Imaji mengatakan kegiatan itu dilakukan dalam rangka silaturahmi di hari meugang antar sesama seniman rupa di Banda Aceh.

"Meugang identik dengan silaturahmi, kami anggap ini momen penting kami berkumpul di sini, untuk menggambar bersama-sama kawan-kawan yang lain," ujar Arnis saat ditemui di lokasi tersebut.

Qurbani Akbar yang sering disapa Ruben, yang juga seniman muda yang bergabung dalam Akar Imaji menyebutkan, kebutuhan bahan-bahan material untuk melukis mural di tembok itu seperti cat, kuas, dan alat pendukung lainya mereka bawa dari masing masing seniman rupa.

Ia menambahkan, senirupa jalanan ini penting dilakukan untuk memancing pelaku seni yang lain untuk bisa berkarya juga. "Ada kawan kawan yang datang, kemudian mereka ikut bergabung. masyarakat juga mengapreasi kegiatan ini, " sebutnya.

Kegiatan senirupa itu mendapat perhatian dari pengguna lalulintas yang melewati jalan ini. Mereka berhenti dan memfoto kegiatan senirupa jalanan dari belasan perupa Banda Aceh itu.

Iswadi Basri, seniman rupa Aceh yang terlibat dalam jamming grafiti itu melihat semangat yang besar tumbuh dari seniman muda Aceh untuk terus berinovasi.

"Semangat bersenirupa tidak pernah berhenti, ini semakin maju, baik sisi dari inovasi, dekorasi baru era sekarang ini, kalau mereka tidak berinovasi maka akan tumbang di tengah jalan," Ujar Iswadi yang pernah diundang ke Jakarta Beinnale 2015 untuk memamerkan 3 lukisannya yang bertema air dan lingkungan [acehmediart.com]

03 May 2017

5/03/2017 09:00:00 AM

Manfaat Bonus Demografi Bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia



Negara Indonesia akan mengalami bonus demografi penduduk yang perkiraannya terjadi pada tahun 2020-2030. Hal itu sebagaimana pernah diungkapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo dalam rapat terbatas tentang Optimalisasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Istana Negara, Jakarta, 7 Februari 2017.


Apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut cukup beralasan. Data Statistik penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 penduduk Indonesia berjumlah 258 juta orang. Menurut BPS, pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok umur produktif antara 15-34 tahun. Kondisi ini disebutkan keadaan negara kita sedang  memasuki era bonus demografi. [lihat Indonesia Dalam Angka di http://databoks.co.id/]

Apa Itu Bonus Demografi?
 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) Edisi V, kata de.mo.gra.fri diartikan sebagai ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Bonus Demografi bisa dikatakan sebagai fenomena struktur jumlah penduduk akan menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedangkan usia muda semakin kecil dan produksi usia renta belum begitu banyak. Tetapi kondisi ini bisa jadi merugikan negara seandainya pemerintah tidak siap dan sigap dalam menyikapi bonus demografi tersebut.

Maka dari itu, perlu adanya pembangunan peningkatan tentang upaya apa saja yang harus dilakukan pemerintah dalam mempersiapkan generasi tersebut sejak dari sekarang. Misalnya tentang persiapan sumberdaya manusia baik itu melalui pendidikan, kesehatan dan penyediaan lapangan kerja yang selama ini belum serius digarap oleh pemerintah; ekonomi tani dan ekonomi maritim.
Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan [2015] | http://databoks.co.id/
Jika kita lihat data investasi pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan tahun 2015 tumbuh 37,5 persen menjadi Rp. 4,43 triliun dari tahun sebelumnya, yakni Rp. 3,22 triliun. Hal ini menurut pengamatan saya efek dari giatnya pemerintah RI melalui Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam ketegasannya melarang kapal-kapal asing, bahkan ditenggelamkan saat berada pada wilayah laut Indonesia.

Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk semakin meningkat setiap tahun. Kondisi ini tentu saja sangat berpengaruh bagi keuntungan ekonomi berupa peningkatan jumlah penduduk usia produktif. Lalu bagaimana peran pemerintah Republik Indonesia beserta seluruh penduduknya dalam menyikapi bonus demografi yang akan meledak nantinya? 
Langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Sejahterakan Nelayan | www.katadata.co.i

Tidak lama lagi, artinya dalam jangka waktu perkiraan 3 tahun akan datang, menyikapi bonus demografi yang akan terjadi pada 3-13 tahun ke depan, ada banyak indikator yang mesti dipersiapkan sejak dari sekarang oleh pemerintah. Salah satunya menyikapi bonus demografi tersebut tentang rencana pemerintah menargetkan negara Indonesia akan jadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020.

Menurut situs KATADATA.co.id, statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam angka pertumbuhan di bawah 6 persen sejak tahun tahun 2013. Tahun 2012, pertumbuhan ekonomi berada di atas 6 persen. Pada 2016, ekonomi domestik tumbuh 5,02 persen, dan pada 2017 diperkirakan akan tumbuh 5,1 persen, dan pada 2018, Presiden Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Hingga 6,1%. Lihat informasi tentang Indonesia Dalam Angka dari tabel databooks.co.id berikut ini. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia | databoks.katadata.co.id

Beberapa hal yang mesti dilakukan persiapan sejak sekarang ini oleh semua pihak,  diantara peningkatan sumberdaya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kesediaan lapangan kerja. Hingga kini Indonesia masih mengalami kekurangan pengusaha yang pada tahun 2017 1,65 persen dari jumlah penduduk Indonesia, 258 juta jiwa. Jumlah ini jauh tertinggal dengan Malaysia, Thailand, Singapura.

Rasio Pengusaha Terhadap Jumlah Penduduk di Beberapa Negara [2013] | databoks.katadata.co.id
Jika melihat rasio minimnya pengusaha di Indonesia, maka inilah tantangan daripada memanfaatkan bonus demografi yang akan mulai terjadi pada tahun 2020. Peluang itu bisa dimulai dari sekarang, tidak ada kata terlambat untuk membangun dan mempersiapkan generasi muda dari sekarang ini untuk dididik menjadi pengusaha. Indonesia dengan luas negara yang terdiri dari pulau-pulau dan tanah yang subur menjadi berpeluang besar dalam menciptakan lapangan kerja baru ke depan.

Hal ini bisa saja dilakukan oleh pemerintah dengan program wirausaha mandiri misalnya, mendidik anak anak bangsa bisa dimulai dari menyempurnakan kurikulum sekolah sejak tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi. Kurikulum tentang enterpreneurship bisa ditingkatkan bagi anak didik, agar mereka sadar dan tau kalau Indonesia berpulang menguasai ekonomi Asia bahkan ekonomi dunia, salah satu cara itu bisa dilakukan dengan peningkatan pengetahuan energi dan penemuan teknologi baru nantinya. 

Tentu saja ini butuh kerja keras semua unsur masyarakat Indonesia, agar bonus demografi bisa menjadi berkah bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan malah menjadi malapetaka yang akan menghancurkan semua sendi kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri, hingga kina tertinggal jauh dari negara-negara maju lainnya. Semoga []


29 March 2017

3/29/2017 11:15:00 PM

HFN 2017: Melihat Nusa Tenggara Timur di Gampong Nusa


Merayakan Keberagaman Indonesia dilakukan dengan banyak cara.  Hari Film Nasional 2017 yang jatuh pada tanggal 30 Maret diperingati secara meriah dan sederhana oleh masyarakat Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu malam, 25 Maret 2016. Sebuah layar tancap yang didirikan seukuran seperempat lapangan futsal, tepatnya di halaman Meunasah desa setempat.

Acara itu terlaksana atas dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Aceh Docomentary serta beberapa lembaga terkait lain. Malam itu, penonton umumnya dari warga gampong Nusa dari usia anak-anak, remaja, pemuda dan kaum ibu-ibu dan tetua gampong saling berbaur khusyuk menonton film berlatar belakang adat dan kondisi sosial masyarakat yang jaduh dari gampong mereka, Nusa Tenggara Timur.

Penonton juga datang dari warga Banda Aceh. Saya melihat beberapa teman teman komunitas muda kreatif duduk berbauar dengan warna ikut meramaikan ‘bioskop keliling’ itu. Jarak tempuh ke kampung Nusa dari Banda Aceh sekitar 20 menit perjalanan berkenderaan.

Gampong Nusa di Aceh Besar tidak asing bagi banyak pegiat pariwisata di Aceh, sejak beberapa tahun akhir ini menjadi kawasan wisata berbasis swakelola warga setempat. Bersama pemuda gampong, mereka mendirikan Lembaga Pariwisata Nusa (LPN) sebagai tempat untuk mengelola dan membantu para tamu wisata yang ingin berkunjung dan menikmati suasana kehidupan ala masyarakat desa. Bagi yang belum bertamu ke gampong Nusa, tidak ada salahnya mencoba Asyiknya Pesona Wisata Desa ala Gampong Nusa dan temukan keramahtamahan sambutan masyarakatnya.

Sejak lama, LPN ini telah menjadi wadah baru masyarakat dalam menjadikan desa mereka hingga dikenal ke banyak masyarakat luar. Selain LPN, warga Nusa sudah menyediakan Bank Sampah yang dikelola oleh Nusa Creatif Community, di mana setiap minggu para anak anak desa bisa menabung sampah dan mengolahnya menjadi barang yang berharga bernilai ekonomis.

Masyarakat gampong Nusa, sebuah desa di kecamatan Lhoknga Aceh Besar dengan nuasana alam dan pemandangan pegunungan hijau sejauh mata memandang. Sungai kecil mengalir air nan jernih, jika sore hari, anak-anak kerap bermandi di sungai ini. Area persawahan luas sebagai tanda jika warga di sini umumnya sebagai petani.

Kondisi itu tentu saja berbeda jauh dengan situasi peradaban masyarakat dusun Kerok, Kabupaten Timur Tengah Utara, NTT sebagaimana yang ditampilkan dalam film Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara, disutradarai oleh Herwin Novianto produksi tahun 2016 itu berdurasi dua jam.

Film dengan pemeran utama Laudya Chintya Bella ini berlatar belakang sebuah desa di pedalaman NTT. Ribuan kilometer jaraknya dengan gampong Nusa di Aceh Besar. Secara kebetulan nama kedua tempat sama, NUSA; yang satu nama gampong dan yang satu lagi nama provinsi.

suasana pemutaran film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara di halaman meunasah gampong Nusa, Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu malam, 25 Maret 2017 | foto Aceh Documentary

Direktur Aceh Documentary, Jamaluddin Phonna dalam sepatah duakata saat menyampaikan sambutan di hadapan ratusan masyarakat gampong Nusa mengatakan, Aceh terpilih menjadi salah satu lokasi untuk memutarkan film-film terbaik guna menyemarakkan Hari Film Nasional 2017 yang puncaknya akan diperingati pada tanggal 30 Maret.

“Sebuah keberuntungan Aceh bisa dapat kesempatan sebagai salah satu lokasi yang dijadikan tempat perayaan HFN 2017. Melalui program pemutaran Film-film terbaik, ini menjadi kesempatan bagi kami di Aceh untuk bisa juga menyaksikan film film yang selama ini hanya bisa diakses di Jakarta,” sebut Jamal, filmmaker yang pernah jadi finalis Eagle Award MetroTV tahun 2011.

Menurutnya, sebuah film akan lebih baik itu bisa sampai ke penontonnya tanpa dibatasi geografis daerahnya. Inilah sesuai dengan tema HFN 2017: Merayakan Keberagaman Indonesia, lanjutnya lagi.

Jamal berharap menonton film ini tidak hanya bisa jadi hiburan semata, tapi juga bisa kita mengambil manfaat dari keberagaman penduduk Indonesia dari berbagai latar suku, ras dan agama untuk saling menghargai.

“Sebagaimana tema HFN tahun ini, Merayakan Keberagaman Indonesia. Semoga nilai keberagaman itu bisa kita petik dari film yang kita tonton,” ujarnya

HFN kali ini, ada 2 lokasi pemutaran film di Aceh; Mini Teater Aceh Documentary, Banda Aceh dengan memutarkan film film pendek terbaik dan di “bioskop keliling” Gampong Nusa, Aceh Besar untuk pemutaran film panjang, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara”

Tahun 2016 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan pelaksana kegiatan dari Komunitas Tikar Pandan juga melakukan pemutaran film Sepatu Dahlan di halaman meunasan gampong Nusa, Lhoknga.

Muhammad Khaidir, Pj. Geuchik Gampong Nusa mengatakan pihaknya menyambut baik pemutaran film di desanya. Ia mengajak warga untuk bisa mengambil pelajaran dari film tersebut, tentang bagaimana memaknai keberagaman Indonesia, pesan pesan dalam film itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari nantinya.

Film Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara berkisah tentang Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang baru saja lulus menjadi sarjana. Ia hidup dalam keluarga islam yang taat, di Jawa Barat. Suatu hari, Aisyah mendapat kabar dari yayasan tempat ia mendaftar jadi pengajar di daerah terpencil. Penempatannya di SD dusun Derok, Kabupaten Timur Tengah Utara, daerah tertinggal dan terpencil di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Dusun Derok tempat yang asing bagi Aisyah, ibunya menentang agar ia tak berangkat, apalagi NTT dikenal sebagai kawasan yang masih jauh tertinggal dari segi pembangunan; tidak ada jaringan seluler, tidak ada listrik, jika kemarau akan kesulitan air bersih. Kedatangan Aisyah ke dusun tersebut sempat terjadi kesalahpahaman dengan masyarakat setempat yang mengira Aisyah dianggap suster Maria, karena informasi yang awalnya diterima masyarakat, guru yang akan mengajar di desa mereka bernama suster Maria.

Kehadiran Aisyah sebagai pendatang baru bagi warga dan murid SD tersebut dibenci oleh salah satu murid, Lordis Defam yang memprovokasi teman sekelas yang ikutan tidak menerima kehadiran Ibu Aisyah yang seorang Muslim, sedangkan penduduk di dusun Derok beragama Katolik. Murid SD itu mengira Aisyah datang membawa misi tertentu. Aisyah beruntung kenal dengan Pedro (Arie Kriting), pemuda setempat yang berprofesi sebagai supir angkutan desa-kecamatan.

Laudya Cynthia Bella sukses memerankan sosok guru Aisyah, dipenghujung alur film ia bisa membawa suasana damai dan dicintai oleh murid-muridnya, hanya saja Lordis masih bersikap benci kepada Aisyah karena Lordis dipengaruhi oleh pamannya yang pernah menetap di Ambon saat daerah itu berkonflik dulu.

Toleransi keberagaman dua kultur yang berbeda digambarkan demikian kuat dalam cerita film ini. Sewaktu Aisyah ingin pulang kampung ke Jawa Barat jelang lebaran tiba, sebagaimana kebiasaan ummat muslim yang ingin merayakan hari lebaran di kampung halaman, saat itu warga tau kalau Aisyah tidak cukup uang tabungan untuk membeli tiket pesawat. Berbondong bondong warga ibu-ibu Dusun Derok mengumpulkan uang untuk membantu Aisyah agar bisa merayakan susana lebaran bersama keluarganya di kampung.

Bagi saya film itu cukup menarik ketika diputarkan di tempat mayoritas masyarakat beragama muslim, biar jadi pemahaman bersama bagaimana saling menghargai perbedaan soal keyakinan sesama penduduk Indonesia, sebagaiman tema yang diusung dalam Hari Film Nasional 2017 ini; Merayakan Keberagaman Indonesia; #SalingKenalMakinSayang []

26 March 2017

3/26/2017 11:43:00 PM

Dari Diskusi Pembunuh Ketujuh

edisi cetak Harian Serambi Indonesia, Minggu, 19 Maret 2017 | @kitabmaop
Ada banyak aspek yang bisa dikritisi dari sebuah buku. Namun, dalam budaya global seperti sekarang, sebuah buku tidak hanya lagi bisa dilihat sebagai basis dari budaya tulis, melainkan juga dari sudur pandang penggambarannya. Apa yang disebut sebagai imagologi.

Dalam kajian sastra citra umumnya dipakai sebagai sarana untuk melihat bagaimana teks mempengaruhi cara pandang pembaca sekaligus membuat pembaca menjadi sadar pada saat yang sama. Tapi berbeda dengan citra, imagologi adalah gambaran yang hadir di luar kontrol pembaca, hasil dari konstruksi budaya, sosial dan politik, yang memasuki alam bawah sadar kita sehari hari, seperti iklan di televisi atau baliho para politisi yang tersenyum di mana seolah olah mereka tersenyum karena mereka ramah kepada kita. Tapi ternyata penampakan gigi putih hasil sotosop itu untuk dana aspiras yang akan meerka tuai setiap tahunnya.

Pendapat di atas saya simpulkan dari pembicaraan Jabbar Sabir, dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, pada diskusi bedah buku sastrawan Herman RN, 23 Februari 2017 di Banda Aceh. Tahun lalu Herman RN menerbitkan buku kumpulan cerpen pertamanya; Pembunuh Ketujuh. Karena sejumlah cerita dalam Pembunuh Ketujuh beberapa diantaranya menyinggung soal syariat Islam, bagaimanapun yang disajikan akan datang berbagai macam reaksi dari pembaca. Dan itu bukan kesalahan penulis. Tapi itu datang dari pembaca sendiri.

Jabbar mencontohkan, akibat akan ada semacam permainan perasaan bagi pembaca, ketika membaca kisah seorang gadis yang hendak dicambuk, di mana tokoh utama dalam cerita ini pikirannya berkecamuk. "Di sini saya menangkap,"tambah Jabbar, "yang jadi pelajaran bagi kita, bahwa mengungkapkan hal hal seperti ini tidak mudah. Penulis harus memadukan keahliannya penulisannya."

Diskusi yang diselenggarakan Bandar Publishing yang menerbitkan buku ini dan Bandar Institute, juga menghadirkan sastrawan Azhari Aiyub sebagai pembicara. Azhari membedah buku ini dengan memulainya darisebuah asumsi. Mengapa manusia menulis cerita? Tentu, menurutnya, kalau pendengar setuju bahwa umur cerita sudah setua ummat manusia. Selama ribuan tahun ada ketidakpuasan manusia terhadap kenyataan sehari hari. Untuk itu manusia membutuhkan bentuk lain untuk bisa bertahan dari kenyataan tersebut. Azhari memberikan contoh, upaya itu misalnya terlihat dari usaha menyatukan antara manusia dengan dunia jin.

Dalam salah salah satu kisah paling tua di dunia, Cerita 1001 Malam, terlihat hampir tidak ada lagi batas antara dunia jin dan dunia manusia. Sementar sehari hari kedua dunia ini hampir tidak bisa disatukan. Jin disebut sebagai musuh abadi manusia dan permusuhan itu akan berlangsung sampai hari kiamat. Tapi dalam kisah yang dikarang pada masa Khalifah Harun al Rasyid tersebut, jin bisa jadi kawan manusia sekaligus musuh.

Tapi persamaannya adalah dalam kisah itu, jin selalu punya peran penting dalam mendorong wacana tentang kemanusiaan. Tapi menurut Azhari, sastra seharusnya tidak lagi beradap tataran wacana, melainkan berada pada lapisan berikutnya. Jika sastra berhasil melepaskan diri dari jebakan ini, ambisi untuk menjelaskna segala hal dan menjaga segala hal, maka pengarang akan menjadi sedikit lebih santai, tidak lagi harus terbebani dengan penilaian benar atau salah.

Selain itu, dalam beda buku dihadiri oleh sekitar 40 orang tersebut, Azhari setuju dengan Jabbar, bahwa tokoh tokoh kumcer Pembunuh Ketujuh terkesan berusaha mempermainkan wacana. Problemnya, hampir rata rata tokoh dalam kumcer ini adalah orang asing yang memasuki suatu persoalan orang lain karena mereka ingin dan nekat.

Tapi problem ini berhasil diatasi pengarang dengan licin, karena pepiawaiannya menggerakkan cerita dan mengatur plot. Dia berhasil mengkoordinasikan unsur unsur yang membentuk sebuah cerita [Serambi Indonesia, Minggu, 19 Maret 2017]

*Muhadzdzier M. Salda, bergiat di Komunitas Kanot Bu dan Pengurus Dewan Kesenian Banda Aceh.

15 March 2017

3/15/2017 03:41:00 AM

Notulensi FGD Pembentukan Generasi Pesona Indonesia di Jawa Tengah



Mewakili Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Aceh, saya menghadiri acara FGD Optimalisasi Target Pasar Wisata dan Pembentukan GenPI Jawa Tengah. Acara tersebut berlangsung di Aston Semarang Hotel and Convention Center, 13 Maret 2017. Berikut sejenis notulensi sekilas tentang kegiatan tersebut. 

Semarang - Banyaknya pengguna media sosial dikalangan anak muda Indonesia disambut positif oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, menggandeng komunitas anak muda yang aktif di media sosial untuk mempromosikan wisata di daerahnya.

Kali ini, melalui Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar RI kembali membentuk Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Ke-6 di Wilayah Jawa Tengah.

05 March 2017

3/05/2017 05:17:00 AM

Komunitas @iloveaceh dan GenPI Aceh Gelar Kopdar Bersama Puluhan Netizen

@genpiaceh

BANDA  ACEH - Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7, Komunitas @iloveaceh berkolaborasi dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh menyelenggarakan kopdar bersama puluhan netizen Aceh dari lintas komunitas yang berlangsung di Keude Kupi Aceh Lambhuk, Sabtu, 4 Maret 2017 sore.

Pengelola Komunitas @iloveaceh, Aulia Fitri menyebutkan, kopdar sambil berdiskusi santai itu untuk menjalin silaturahmi dan saling berbagi informasi positif terkait Aceh di media sosial.

"Kopdar #MedsosPositif kita gelar sebagai salah satu agenda dari HUT #7thiloveaceh dan ini menjadi awal baik sebagai bentuk silaturrahmi komunitas dan juga sesama followers," sebut Aulia yang juga Wakil Koordinator GenPI Aceh ini.

Ia menambahkan acara Kopdar #MedsosPositif ikut membahas isu terkait pengelolaan konten positif dan menangkal berita bohong (hoax) di 3 akun media sosial; Instagram, Twitter dan Facebook.

Sementara itu, Ketua Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) GenPI Aceh, Reyhan Gufriyansyah, mengatakan kopdar sesama warga pengguna media sosial ini merupakan kegiatan bulanan GenPI Aceh untuk mempererat silaturahmi antar pengguna media sosial di Aceh.

"Kegiatan ini akan rutin kita laksanakan agar menjadi pemahaman bersama untuk menyebarkan informasi positif tentang Aceh, terutama bidang pariwisata Aceh yang merupakan fokus utama dari GenPI Aceh," ujar Reyhan yang juga penyiar di salah satu radio di Banda Aceh.

Acara Kopdar #MedsosPositif dalam rangka HUT #7thiloveaceh turut dihadiri lintas komunitas serta Kepala Biro Humas Setda Aceh, Frans Delian yang  berbagi informasi seputar kehumasan Pemerintah Aceh yang dilakukan pihaknya selama ini.

Frans menyebutkan, sosialisasi beretika internet akan diusulkan agar masuk sebagai kurikulum di sekolah formal dan pesantren atau dayah di Aceh.

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) adalah komunitas relawan pariwisata yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata RI untuk mempromosikan kegiatan pariwisata dari berbagai wilayah di Indonesia. GenPI berfokus pada promosi wisata melalui teknologi digital dengan mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial. Komunitas ini lebih dikenal sebagai laskar digital pariwisata Indonesia

[Divisi Humas GenPI Chapter Aceh / @genpiaceh]

14 February 2017

2/14/2017 06:54:00 AM

Hoax Berjamaah




Muhadzdzier M. Salda* 
[sumber: acehkita.com, selasa 7 februari 2017]
 
Adakah yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya di dunia ini? Ada. Kecepatan jempol manusia pengguna telepon pintar yang sebarkan berita bohong alias hoax di media sosial.

Di kalangan masyarakat Aceh, pembawa kabar hoax bisa disebut sebagai lalat mirah rhueng. Manusia yang mempunyai sifat suka menyebarkan kabar buruk kepada orang lain, hingga terjadi saling adu domba sesama ummat.

Setiap ada peristiwa atau berita terbaru yang sedang banyak dibahas pengguna media sosial di Indonesia, tak boleh serta-merta dipercaya begitu saja. Kita mesti cek dan ricek untuk memastikan kebenaran, tak sembarang membagikan tautan berita tersebut, diselingi kata ‘mohon sebarkan’ dan atau kata ‘dari grup sebelah’.

Saya percaya bahwa padatnya pengguna media sosial seiring dengan banyaknya produsen peristiwa kabar bohong untuk saling menghasut dan ujaran kebencian antar-sesama. Pengguna media sosial yang tinggi membuat para berkepentingan untuk terus memproduksi berita bohong, saling fitnah dan penuh caci maki.

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survei yang dilakukan pada 2016 menyebutkan 132 juta lebih yang mengakses internet di Indonesia. Artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia; 256 jiwa.

APJII menyebutkan, pengguna internet paling banyak diakses melalui telepon pintar layar lunak. Ini tentu sesuai dengan fakta, di mana orang menggunakan telepon pintar yang selalu terhubung ke internet.

Saya mengasumsikan telepon genggam saya dengan berbagai akun media sosial yang saya gunakan, betapa banyak informasi bohong tersebar dan ditemukan dengan mudah di telepon pintar saya.

Bayangkan, jika telepon itu diperas maka yang keluar adalah linggis, senjata, bom, lendir, dan segala cacian atas nama hewan tertentu. Segala makian kepada orang tertentu dan kabar burung dan buruk lainnya.

Padatnya pengguna internet dengan mudah mengakses melalui telepon pintar tak beriringan dengan pengguna yang pintar dalam memilih dan memilah satu kabar berita tertentu. Jika dulu berlaku peribahasa: mulutmu harimaumu, maka sekarang berubah menjadi: jempolmu harimaumu.

Jempol latah demikian mudah membagikan kabar fitnah dan suatu kebohongan lewat akun media sosial yang ia miliki. Pengguna telepon pintar tak selamanya menjadi pintar. Dulu kita harus mencari informasi dengan susah payah. Tetapi, sekarangi tsunami informasi membuat kita harus pintar memilih dan memilah mana yang pantas dan layak dipercaya sebagai sebuah fakta atas suatu kejadian perkara.

Banyaknya situs media siber yang mencari keuntungan dengan target rating tinggi dari pengguna media sosial untuk disebarkan, orang-orang tidak tahu bagaimana kerja-kerja mendapatkan puluhan ribu dolar setiap bulan atas iklan yang diklik oleh pembaca, yang dibayar oleh google adsense.

Jikapun pemerintah telah sepakat menutup situs-situs (terduga) berita bohong, hal itu tidak bisa dicegah dengan mudah. Sebab lebih mudah lagi membuat situs berita sekarang ini. Hanya bermodalkan segelas kopi dan akses internet yang cepat di warung berwifi, kabar bohong langsung mudah disebarkan.

Kita mesti menganalisa berbagai isi konten berita media jurnalistik; baik media siber/maya/online atau cetak untuk mengetahui setiap pemberitaan dengan tema yang sedang viral. Harus banyak membaca berbagai informasi media, sebab tiap media tentu punya sudut pandang pemberitaan sesuai kepentingan masing masing dari pemilik modal atau kepentingan bisnis sang tuannya.

Menjelang pemilihan kepala daerah, media siber berkepentingan dengan setiap judul berita yang akan mereka sebarkan. Tergantung pada kemana arah tujuan ‘sang pemilik’ media untuk menyukseskan sang kandidat yang mereka dukung dan usung diam-diam.

Opini mengarah pada kepentingan politik tertentu tak bisa diabaikan. Saling serang dan rebut lahan pemilih untuk sebuah citra baik sang kandidat yang mereka dukung. Tentu saja ada yang sampai menghantam lawan dalam pertarungan politik jadi isu cukup menarik.

Arus informasi tiap detik peristiwa yang terjadi ke hadapan pengguna layar lunak cukup mudah, semisal anda sedang buang hajat sekalipun. Saat di kakus, anda bisa membaca berita jurnalistik atau terduga berita jurnalistik baik tulisan dan video dengan mudah, bisa mengakses internet demikian cepat tanpa ada hambatan kecuali quota internet anda yang terbatas.

Berita yang anda baca kadang harus dialirkan begitu saja, seiring dengan aliran air bercampur kotoran yang anda buang dengan penuh lega dari balik lubang yang berdekat dengan poros nikmat itu. Kini bagi yang merasa pintar dan merasa bodoh, bagi anda pengguna telpon cerdas dalam memilih dan memilah berita itu selayak dan sepantas mana kabar itu berefek jika dibagikan kepada publik luas.

Sebab, zaman media sosial ini, ‘masuk surga’ saja cukup mudah; tinggal klik ‘like’ dan katakan ‘amin’ saja. Kalimat ini paling sering terjebak para pengguna dengan sebarkan ke beranda mereka.

Kalian yang membaca tulisan ini sampai selesai akan kecewa, sebagai informasi saya menulis ini saat sedang buang hajat di kakus di sebuah warkop yang tak boleh disebut namanya di kawasan Banda Aceh.

Tetapi yang harus diingat, saat omongan tidak bisa dipegang, percayalah bahwa status media sosial bisa di-capture dan disebarkan. Sudah sekian banyak kasus-kasus yang terjerat UU ITE di Indonesia.

Berhati-hatilah dalam gunakan jempol, jika tidak penting, berhentilah menjadi kaum penyebar berita hoax, berhentilah jadi kaum hoax berjamaah.[]

*Penulis adalah pergiat di Komunitas Kanotbu dan bekerja sebagai penjual buku keliling di Banda Aceh.

01 February 2017

2/01/2017 11:29:00 PM

Ho-Jak, RBT Online Karya Pengusaha Muda dari Aceh


Seorang pengusaha muda Salak Pliek-U dari Bireuen membuat aplikasi jasa transportasi online lokal yang bisa digunakan oleh wisatawan dan masyarakat umum. Ho-Jak sekaligus untuk mendukung digital tourism di Aceh.

“Kita melihat bahwa di Aceh kebutuhan terhadap akses tranportasi masih sangat susah, jadi kita buat sebuah aplikasi di mana nanti masyarakat dengan mudah mencari tranportasi yang diinginkan,” CEO Ho-Jak, Khairul Mubaraq di Banda Aceh, Kamis, 2 Februari 2017. 

25 January 2017

1/25/2017 07:40:00 AM

Kini Urus SKCK Baru dan Perpanjang Lebih Mudah

Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK) sangat dibutuhkan terutama saat melengkapi berkas lamaran kerja atau kebutuhan lainnya bagi anda. Pelamar kerja biasanya mengurus SKCK karena kebutuhan mendadak dan terburu-buru. Hal ini cukup merepotkan dan merugikan anda, apalagi kebutuhan waktu anda melamar pekerjaan yang singkat. Saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi.


SKCK diterbitkan oleh Polri melalui Kapolres kabupaten domisi pemohon, untuk masa berlaku 6 bulan sejak tanggal diterbitkan. SKCK dapat diperpanjang, dan prosesnya lebih mudah daripada mengurus baru.

Reformasi birokrasi dalam pengurusan surat di kepolisian sudah cukup mudah. Bahkan sudah bisa dilakukan melalui SKCK Online, tetapi hanya berlaku bagi beberapa daerah kota besar saja.  Sebulan lalu saya mengurus SKCK di Polresta Banda Aceh.  Saya mengurus perpanjang SKCK di  Polresta Banda Aceh sudah cukup cepat, hanya menunggu sekitar 15 menit, SKCK saya sudah selesai.

Polresta Banda Aceh pada Desember 2016 lalu pernah meraih penghargaan Layanan Pembuatan SIM dan SKCK Terbaik di Indonesia dari Deputi Pelayanan Publik Kementerian PAN dan RB. Untuk yang memperpanjang SKCK, agar tidak repot kemudian hari, sebaiknya ingat kapan masa kadaluarsa.Mengingat, kisah saya yang sudah setahun habis masa berlaku, harus mengurus surat rekom geuchik dan kapolsek sejak dari awal. Tentu ini cukup merugikan karena lalai :)

Berikut ini tatacara mengurus SKCK baru :
  • Surat Pengantar/Rekom Geuchik 
Untuk mendapatkan surat dari desa, kamu harus melampirkan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Sebagai bukti bahwa kamu memang warga desa tersebut. Surat dibuat oleh Sekretaris Desa (Sekdes), baru kemudian ditandatangan oleh Geuchik setempat.
  • Surat Pengantar/Rekom dari Polsek
Setelah mendapatkan surat pengantar dari Geuchik/Kepala Desa, selanjutnya mengurus surat rekomendasi dari Kapolsek. Disini kalian harus mempersiapkan berkas syarat, diantaranya:

- Surat pengantar dari Geuchik
- Fotocopy KTP 1 Lembar
- Fotocopy Akta Kelahiran 1 Lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 lembar
- Fotocopy Ijazah terakhir 1 lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 3 lembar latar belakang warna merah

gambar direkam tahun 2016 di Polsek Krueng Barona Jaya, Aceh Besar
  • Saat di Polres, Mempersiapkan berkas syarat: 
- Surat Rekomendasi dari Geuchik
- Surat Rekomendasi Polsek
- Fotocopy Akte Kelahiran/Kenal Lahir 1 lembar
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 Lembar
- Fotocopy Ijazah Terakhir 1 Lembar
- Pasphoto ukuran 4X6  sebanyak 5 lembar latar belakang warna merah

Selanjutnya menuju ke loket petugas, nanti akan diberikan formulir SKCK yang harus anda isi, selanjutnya pengambilan sidik jari yang dilakukan oleh petugas. Tinggal menunggu dan dipanggil. Biaya pembuatan SKCK baru/perpanjang Rp. 10.000. 


direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
  • Syarat pengurusan SKCK Yang Masih Berlaku : 
- Asli/Fotocopy SKCK Lama.
- Pas Photo 4x6 latar belakang merah/biru 3 lembar
- Fotocopy KTP 1 lembar
  • Syarat Perpanjang SKCK Yang Tidak Berlaku/Sudah Habis Masa Berlaku
-Asli /Fotocopy SKCK Lama
-Rekomendasi Geuhcik/Lurah Setempat
-Rekomendasi Polsek Setempat
-Fotocopy KTP 1 Lembar
-Pas photo warna merah/biru 3 lembar

direkam diruang loket pembuatan SKCK Polresta Banda Aceh, 2016
Biaya pembuatan perpanjang juga sama dengan SKCK baru. Untuk memudahkan, sebaiknya anda mengurus SKCK perpanjang sebelum masa kadaluarsa habis, penting ketika diperlukan, tidak perlu mengurus surat rekomendasi dari sejak awal di tingkat desa

Demikian, ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan sumber sebagaimana yang telah ditulis di atas. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk kabarkan ke orang lain, jika ini penting []